Ujian Seorang Raja
Ada sebuah janji dan tujuan Illahi yang diberikan Allah kepada manusia yang terdapat dalam surat Rasul Petrus yang pertama. Ia mengawali surat tersebut dengan mengatakan bahwa umat Allah akan menerima sebuah bagian yang kekal, tidak dapat tercemar dan mulia. Namun, janji tersebut tidak diberikan secara langsung. Ada sebuah syarat, seperti semua janji yang Tuhan berikan kepada manusia. Itulah mengapa dinamakan perjanjian, bukan hanya sekedar janji. Karena yang berjanji dan melakukan adalah kedua belah pihak.
Untuk mendapatkan perjanjian itu, umat Allah harus hidup kudus. 1 Petrus 1:14-15 berkata bahwa kita harus hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak menuruti hawa nafsu yang menguasai kita pada waktu kebodohan dan menjadi kudus. Hal ini dibahas terus menerus dalam pasal 1 dan pasal 2 sebelum ayat 9 yang menjelaskan jati diri kita sebagai imamat yang rajani. Mengenai hal ini, ada beberapa penjelasan yang sebenarnya akan mengarah ke sebuah hal yang sama.
- Tujuan dari imamat yang rajani, dijelaskan dalam versi Amplified Bible ialah 'to show virtues and perfections'. Hal ini berarti untuk menunjukkan perbuatan-perbuatan dan kesempurnaan.
- Kita hidup untuk memuliakan Tuhan. Dan seringkali saat kita menghadiri pertemuan ibadah, maka kita akan diajak untuk memuliakan Tuhan. Seperti apa sebenarnya arti memuliakan Tuhan tersebut? Bagaimana prakteknya? Jika merujuk pada kata kemuliaan (glory), maka dalam bahasa Ibraninya (kabowd), sebenarnya memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu memberikan kesempurnaan kepada Tuhan. Artinya, bukan hanya kita menghormati Tuhan sebagai pihak yang paling sempurna, tetapi juga kita mempersembahkan kesempurnaan dari hidup kita kepada Tuhan.
- Kita sering mengatakan 'haleluya'. Kata tersebut berasal dari dua kata Ibrani, yaitu 'halel' dan 'Yhwh'. Halel berarti ajakan untuk memuji. Tetapi kita juga tahu bahwa halel memiliki kedekatan arti dengan kata halal yang berarti dipisahkan atau sacred. Kita semua tahu bahwa makanan yang tidak halal merupakan makanan yang 'kurang berkualitas', artinya mungkin saja terdapat sesuatu yang buruk yang bisa mengganggu kesehatan kita. Dengan kata lain, sesuatu yang dinyatakan halal ialah sesuatu yang berkualitas. Jadi, haleluya berarti bahwa kita mengatakan bahwa Allah adalah pihak yang sangat berkaitan dengan kesempurnaan.
- Jika kita mencari arti kata 'glory' di kamus, maka kita akan menemukan bahwa glory berkaitan dengan kata splendor yang berarti kekayaan. Coba bandingkan Wahyu 21:26 dalam versi Indonesia dan Inggris. Kata yang diterjemahkan dengan kekayaan tersebut adalah splendor. Artinya, kekayaan memiliki kaitan yang erat dengan kesempurnaan.
- Kata 'kabowd' juga dipakai untuk menguduskan Tuhan. Dalam alkitab terdapat 2 kata tentang kekudusan, yaitu 'shekinah' dan 'memra'. Memra merupakan kata yang dipakai untuk manusia, sedangkan shekinah hanya khusus untuk Tuhan. Namun, kedua kata tersebut selalu dikaitkan dengan kata 'glory', itulah mengapa mungkin kita mengenal kata 'shekinah glory'. Artinya, kekudusan memiliki kaitan dengan kualitas atau kesempurnaan.
Manusia diciptakan untuk berkuasa (to have dominion, Kej 1:26). Melalui dirinya, Allah rindu untuk menyatakan kerajaanNya di muka bumi. Jika kita mencari arti kata 'kemuliaan/glory' dalam bahasa Yunani, kita akan menemukan kata 'hiero/hier' yang memiliki kaitan erat dengan kata 'hierarchy/hierarki', yang mungkin cuma kita mengerti sebagai penggolongan peringkat saja. Padahal sebenarnya memiliki arti yang cukup dalam.
Hierarchy1. Rule or dominion in holy things; priestly rule or government; a system of ecclesiastical rule. 2. The collective body of ecclesiastical rulers; an organized body of priests or clergy in successive orders or grades. 3. A body of persons or things ranked in grades, orders, or classes, one above another; specifically, in natural science and logic, a system or series of terms of successive rank (as classes, orders, genera, species, etc.), used in classification.
Ternyata hierarchy juga berarti 'rule or dominion'. Mari kita telaah lagi. Kemuliaan berkaitan dengan hiero yang berkaitan dengan hierarchy yang berkaitan dengan dominion. Kemuliaan berkaitan dengan kesempurnaan (seperti telah dijelaskan di atas) dan kesempurnaan berkaitan dengan imamat yang rajani. Kata raja berbicara tentang kekuasaan (dominion). Artinya, kekuasaan berkaitan dengan kesempurnaan. Allah sendiri menunjukkan kekuaasaanNya dengan kesempurnaanNya. Mari kita buktikan. Pada Kejadian 1, Ia menciptakkan langit, bumi dan segala isinya. Setiap kali Ia selesai menciptakan, Ia mengatakan bahwa ciptaannya tersebut adalah baik. Kata baik dalam bahasa Ibrani tersebut ialah 'tob'. Kata tersebut memiliki beberapa arti sebagai berikut.
- practical, economic, or material good
- abstract goodness such as desirability, pleasantness, and beauty
- quality or expense
- moral goodness
- technical philosophical sense
Lihat arti ketiga dari kata tersebut. Ternyata masih berkaitan dengan kualitas. Dan sekali lagi membuktikan bahwa kualitas memiliki kaitan erat dengan kekayaan (bandingkan arti pertama dan ketiga). Pertanyaannya, kualitas atau kesempurnaan siapa? Bagaimana? Ternyata ialah kesempurnaan Allah yang terpancar dalam hidup kita. Dalam Galatiaa 2:20, Rasul Paulus mengakui bahwa manusia memang tidak sempurna karena berada dalam daging. Namun, mungkinkah seorang manusia hidup dalam kekudusan?
Hal ini tergantung dari definisi dari kekudusan yang kita miliki. Rasul Paulus berkata bahwa hidupnya di dalam daging ialah hidup oleh iman. Ia juga sempat berkata bahwa ia terus berjuang melawan keinginan lain yang terus melawan keinginan Roh. Artinya, ia sedang tidak berada pada kondisi kesempurnaan. Masih ada kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Namun ia beriman bahwa ia bisa. Mengapa? Di ayat 21, ia berkata tentang kasih karunia. Ya, karena Allah telah memberikan kasih karunia. Kasih karunia berarti sesuatu yang tidak dapat kita miliki dan kita capai, namun diberikan. Artinya, kekudusan tersebut juga dikaruniakan oleh Kristus. Itulah mengapa Rasul Paulus berkata bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Galatia 2:21 juga berkata bahwa jika ada kebenaran dalam hukum taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. Kita mengerti bahwa hukum taurat berisi segala peraturan yang begitu banyak dan jika satu dilanggar maka kita berdosa. Namun Rasul Paulus yang mengatakan bahwa ia adalah golongan Sanhedrin yang sangat taat kepada peraturan (dan ia berhasil melakukannya) mengatakan bahwa tidak ada kebenaran (atau keselamatan) dalam hukum taurat. Karena hukum taurat hanya menuntun kepada kebinasaan (karena begitu ketatnya sehingga sulit sekali untuk tidak berbuat dosa jika kita berada dalam hukum taurat). Sehingga, hanya Kristuslah jawaban dari hukum taurat.
Ayat tersebut di atas juga berarti bahwa Rasul Paulus juga tidak sedang berada pada kondisi sempurna. Ia sedang berusaha untuk sempurna. Jika kita merujuk kembali pada kata hiero yang berkaitan dengan hierarchy, maka kita tahu bahwa ada pembagian kasta atau tingkatan. Artinya, kesempurnaan tidak menunjukkan hanya ada dua kondisi, yaitu sempurna dan tidak. Tetapi mungkin ada kondisi agak sempurna, agak tidak sempurna, dan seterusnya. 1 Petrus 1:14 berisi ajakan untuk hidup kudus/sempurna. Juga, Yesus berkata dalam Matius 5:48, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Ayat-ayat tersebut berisi himbauan atau ajakan. Artinya, orang yang dihimbau belum memiliki hal tersebut.
Jadi kehidupan kita di dunia adalah tentang proses, yaitu untuk menjadi sempurna. Apakah mungkin kita menjadi sempurna? Jawabannya adalah mungkin. Karena tidak mungkin Allah memberikan perintah yang tidak dapat dilakukan oleh umatNya. Oleh karena itu, kita harus terus berusaha untuk mencapainya. Karena kesempurnaan berarti juga berkuasa (dominion) seperti telah dijelaskan di atas yang merupakan tujuan hidup manusia. Kuncinya adalah hidup dari, oleh dan untuk Tuhan (Yohanes 1:3, Roma 11:36, Kolose 3:23). Jika kita mengasihi Tuhan, maka kita akan berkualitas dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Setiap saat kita tidak memberikan progress, maka saat itu juga kita sedang mati ~ Victor Julian Lipesik