You Are A Brand
"You Are A Brand" adalah sebuah judul buku karangan Catherine Kaputa yang saya temukan di rak sebuah toko buku kira-kira pada pertengahan tahun 2013. Ini adalah pertama kali saya mengenal istilah ini. Saya tidak membeli buku tersebut, namun konsep ini begitu melekat di benak saya. Kebenaran yang terkandung dalam kalimat ini telah memberikan beberapa pengertian bagi diri saya yang sebenarnya penting untuk semua orang Kristen mengerti.
Brand atau merk kira-kira berarti segala sesuatu (baik berupa nama, istilah, desain, simbol, atau apapun) yang mampu mengidentifikasikan keunikan suatu produk. "Kamu adalah garam dan terang dunia", tegas Yesus. Kata-kata ini telah menjadi power statement yang membuat orang tidak bisa berkutik akan panggilannya sebagai Duta Besar Kerajaan Allah di bumi. Ya, kita hidup mewakili sebuah brand yang bernama 'Kerajaan Allah'.
Semua brand memiliki keunikan. Ini yang membuatnya berbeda dari brand yang lain. Ada banyak orang Kristen di dunia. Mereka mewakili satu brand yang sama, yaitu 'Kerajaan Allah'. Namun, tidak banyak orang Kristen yang sadar bahwa mereka juga memiliki personal branding. Berikut akan saya jelaskan secara sederhana.
Jika kerajaan Allah diibaratkan seperti sebuah perusahaan besar, sebut saja Unilever. Ia memiliki banyak anak perusahaan dengan ribuan produk yang memiliki brand sendiri, sebut saja Dove, Axe, Lipton, Pond's, Knorr, Wall's, Cif, Sunsilk, Clear, dan sebagainya. Produk-produk tersebut ada yang terdapat dalam satu bidang, misalnya Dove dengan Lux dan Pond's. Artinya bahkan produk dari induk yang sama juga bersaing dalam pasar yang sama (kita abaikan masalah segmentasi terlebih dahulu, pada dasarnya mereka produk dengan fungsi dasar yang sama). Ada juga produk yang benar-benar berbeda. Ia merambah bidang sabun mandi, shampo, sabun cuci, makanan kaleng, es krim dan lainnya.
Unilever sendiri adalah sebuah brand. Apa buktinya? Seandainya Unilever mengeluarkan sebuah produk baru yang tidak anda kenal sama sekali, asal melihat logo Unilever, hati anda akan tenteram membeli produk tersebut meskipun dengan harga yang mahal bukan? Namun produk-produk yang dinaungi oleh Unilever juga adalah sebuah brand. Apa buktinya? Mereka semua berlomba-lomba memperkenalkan produk mereka dan menonjolkan keunikannya masing-masing.
Sebagai orang Kristen, kita memiliki brand induk yang sama. Namun, tiap orang memiliki brand masing-masing. Masalahnya, tidak banyak orang Kristen yang sadar. Mereka cenderung ingin untuk menjadi seragam. Yang biasanya menjadi sasaran adalah mereka ingin menjadi seperti pemimpin mereka, biasanya pendeta. Mungkin mereka tergugah dengan perintah Paulus, "Ikutilah teladanku sama seperti aku mengikuti teladan Kristus".
Apakah salah? Tidak! Masalahnya Tuhan menciptakan kita secara unik. Meskipun kita semua adalah gambar dan rupaNya, tetapi Tuhan yang begitu mahakuasa telah memberikan tugas yang spesifik untuk kita lakukan. PerintahNya pada Kejadian 1:26 agar manusia berkuasa berarti adalah benar-benar menguasai segala aspek yang terdapat di muka bumi.
Masalahnya, jika Tuhan ingin agar kita menjadi seragam, tentu Ia tidak akan menciptakan keberagaman di muka bumi. Alam telah menciptakan ratusan bidang (daerah kekuasaan, dominion) untuk direbut. Ada pertanian, kehutanan, kelautan, bahkan kemajuan teknologi telah ikut berpartisipasi terhadap ribuan bidang baru, misalnya perumahan, elektronika, teknologi informasi, dan lainnya.
Dalam bukunya "Church in the Workplace", Peter Wagner, seorang rasul modern yang diakui di seluruh dunia mengatakan bahwa masing-masing bidang (daerah kekuasaan) memiliki tata aturan yang berbeda-beda. Moralitas praktis yang terjadi pun berbeda dengan apa yang biasanya diajarkan dalam gereja. Hal ini menyebabkan banyak pengusaha menjadi gelisah karena merasa terus berdosa.
Keberagaman bidang menuntut setiap orang Kristen mampu menegakkan panji (yang berarti merebut hak kekuasaan) di sana dengan cara untuk menjadi maksimal di bidangnya masing-masing. Saat kita menjadi maksimal kita menjadi ahli di sana. Mungkin bukan orang nomor satu, namun menjadi ahli berbicara berada pada jajaran puncak, dimana semua orang mengakui kompetensi kita.
Hal ini menuntut dedikasi, kerja keras, serta iman setara Abraham. Namun bayangkan jika semua orang merasa bahwa panggilannya untuk melayani Tuhan berarti menjadi misionaris dan dengan itu berarti ia harus sekolah Alkitab? Sekali lagi itu tidak salah, namun itu berarti meninggalkan lahan tidur untuk digarap.
Ladang yang menguning benar-benar berbicara tentang suatu daerah yang sangat luas, yang membutuhkan orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Saat Tuhan memerintahkan pembangunan kemah suci, Ia mengurapi dan memberikan orang-orang Israel berbagai-bagai keahlian yang berbeda. Bayangkan jika semuanya memiliki keahlian yang sama.
Begitu juga orang Kristen yang berada di bidang bisnis (yang menyangkut bidang yang begitu luas) harus menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Orang yang memegang kekuasaan berhak untuk menerbitkan peraturan. Di sinilah Kerajaan Allah ditegakkan. Alih-alih bingung dengan bagaimana supaya tidak berdosa dalam berbisnis, menangkanlah daerah bisnis anda dan buatlah peraturan di sana.
Hal ini juga menuntut spiritualitas tiap orang Kristen. Kita semua memiliki otoritas untuk menegakkan aturan di bidang kita masing-masing. Spiritualitas bukanlah milik pendeta saja. Spiritualitas kita sebagai orang Kristen akan menentukan bagaimana kita memenangkan bidang kita. Artinya kita harus mampu menarik apa yang terdapat dalam alam roh terwujud dalam kehidupan natural kita. Yang bisa memenangkan area kita adalah diri kita, bukan orang lain, bukan pembimbing rohani atau siapapun.
Penghakiman pada saat Yesus turun yang kedua kali bukan berbicara tentang dosa atau tidak, tetapi bagaimana kita telah mengusahakan kepercayaan yang telah Ia berikan, sama seperti perumpamaan tentang talenta. Jika kita berhasil mengembangkan skill kita pada bidang yang telah Ia percayakan, maka kita akan menjadi ahli. Menjadi ahli berarti menegakkan panji Kerajaan Allah di sana dan ini berarti berhasil menjawab kepercayaan Tuhan kepada kita di bumi. Selanjutnya Ia akan memberikan kepercayaan yang lebih besar dalam kekekalan!
(Gambar dari berbagai sumber)