From The Author > Life Paradigm
Pola Dosa: Merayu, Mengikat, Menjerumuskan
Topik dosa merupakan topik yang populer bagi seluruh umat manusia. Bagi Kristiani, dosa adalah aktor utama penghalang hubungan dengan Tuhan. Uniknya jika dipikirkan ulang, bahkan dosapun dipakai Tuhan untuk 'menyatakan' betapa kasihNya nyata, bukan khayalan, sesuatu yang hadir secara utuh dalam kehidupan manusia. Namun, tidak dapat dipungkiri, dosa sempat menjadi masalah terbesar bagi umat manusia. Banyak di antara kita, bahkan yang mengaku telah menerima anugerah keselamatan, masih dibuat frustrasi oleh dosa. Jadi, ada baiknya kita mengenal dosa dan sifat-sifatnya.Tentu ada banyak pertanyaan tentang dosa. Misalnya, apakah sejak awal Adam dan Hawa telah memiliki 'potensi' dosa? Jika ya, berarti Tuhan menciptakan dosa? Jika tidak, kapan masuknya? Setidaknya pertanyaan ini menjadi wakil dari semua keingintahuan yang seringkali muncul dari benak kita. Dosa setidaknya telah menjadi drama kemanusiaan terbesar dalam sejarah umat manusia. Karena dosa, Alkitab turun sebagai panduan hubungan dengan Tuhan. Ya, Alkitab bukan Firman Tuhan (belaka). Di dalamnya terdapat ucapan Tuhan, manusia (berasal dari keinginan diri sendiri) dan bahkan ucapan Iblis. Tapi Alkitab adalah panduan tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan. Di dalamnya kita akan menemukan sifat-sifat Tuhan, kerinduanNya serta seluruh rahasia-rahasiaNya, yang jika kita hidupi akan membuat hidup kita kembali mencerminkan Tuhan (artinya segambar dan serupa denganNya).Alkitab telah menceritakan tentang dosa dan bagaimana ia telah mencederai seluruh kehidupan manusia. Karena itu, mari kita melihat sifat-sifat dosa dari asal mulanya di Kejadian 3. Berikut adalah beberapa poin yang dapat kita mengerti.- Ay 1, rupa yang digunakan adalah ular, yaitu binatang yang paling cerdik. Kecerdikan selalu berbicara tentang sifat merayu, menipu. Ia tidak pernah menggunakan kekerasan (represif), tetapi mencari celah dan langsung menerobos. Itulah mengapa di Kejadian 4:7, dikatakan "dosa sudah mengintip di depan pintu".
- Ay 1-3, yang diserang selalu adalah pengenalan kita akan Tuhan. Ular melakukan tes pengenalan Hawa terhadap perintah Tuhan. Dan Hawa rupanya tidak sempurna mengenal perintah tersebut, karena Tuhan tidak pernah melarang manusia untuk 'meraba' buah itu. Sebenarnya, dari sini kita tahu bahwa ini juga adalah kegagalan Adam, karena waktu Allah memberikan perintah tersebut, belum ada Hawa. Jadi jika Hawa tahu terhadap perintah itu, pastilah dari kata Adam. Pria adalah imam, bertugas sebagai perantara Tuhan dengan umatNya. Jadi kesalahan pengenalan Hawa juga pasti disebabkan blunder dari Adam.
- Ay 4-5, yang dosa selalu bangkitkan adalah ego manusia. Karena manusia diciptakan serupa dengan Allah, ia memang memiliki 'sense of dominion', yaitu kerinduan untuk berkuasa (Kej 1:26, Tuhan memang memerintahkan manusia untuk berkuasa). Celah ini yang dimanfaatkan oleh dosa untuk membangkitkan ego secara salah.
- Ay 6, dan Hawa terpancing. Sekali lagi, terpancingnya Hawa jelas diakibatkan oleh pengenalan yang lemah kepada Tuhan. Dosa juga selalu memiliki faktor untuk memancing seseorang. Hawa terpancing dengan merespon dalam sebuah diskusi. Bandingkan dengan Yesus waktu di padang gurun. Diskusi Yesus mengunci dan mematahkan argumen dosa.
- Pada masa ini, yang mengambil peran sudah bukan dosa sebagai faktor eksternal lagi, tetapi dosa sudah 'masuk' dan 'merayu' dari dalam diri. Karena itu, kalimat yang digunakan adalah "Perempuan itu melihat... sedap kelihatannya... pohon itu menarik hati..."
- Parahnya, Adam juga ikut memakan buah itu. Jelas bahwa Adam juga tidak mengenal Allah dengan benar.
- Ay 7, yang terjadi adalah memang mereka mengetahui sesuatu yang belum mereka ketahui. Tapi ternyata yang diketahui adalah ketelanjangan mereka. Apa masalahnya? Bukankah sejak dulu mereka telanjang? Ternyata masalahnya adalah, sifat dari dosa selanjutnya selalu membuat manusia menjadi merasa buruk, tidak sempurna, lemah.
- Dan reaksi alamiah dari dosa dalam diri manusia adalah selalu berusaha menutupinya. Bukankah kita juga demikian? Bahkan usaha untuk menutupi tersebut sebagian besar akan menghasilkan dosa berikutnya. Itulah mengapa Yakobus 5:16 berkata tentang saling mengaku dosa, dan itu modal bagi doa yang berkuasa.
- Padahal, kasih berarti menutupi segala sesuatu (1 Korintus 13:7). Seharusnya Adam dan Hawa tidak perlu malu, karena mereka di hadapan Tuhan sudah sempurna karena kasihNya membuat segala hal dalam diri mereka menjadi sempurna. Kita yang lagi 'jatuh cinta' pasti mengerti tentang hal ini.
- Ay 8, sebenarnya mereka mengenal Tuhan, buktinya bunyi langkah kakiNya dikenal mereka. Tetapi pengenalan mereka bersifat eksternal. Seharusnya mereka mengenal sesuatu yang lebih penting, yaitu hatiNya.
- Ay 9-13, kemudian terjadilah drama saling menyalahkan. Sekali lagi, ini adalah tanda ego sudah berkuasa dalam diri manusia. Jika seorang anak merasa 'aman' dengan orang tua, mereka pasti dengan mudah mengakui kesalahan mereka. Menyalahkan orang lain atau keadaan adalah tanda rasa tidak aman dalam diri manusia. Inilah yang menyebabkan seluruh kejahatan. Korupsi atau seluruh tindak kejahatan lain adalah hasil dari rasa tidak aman, yaitu tidak percaya akan seluruh penyertaan dan perlindungan Tuhan.
- Ay 14-19, orang sering menyebut bahwa Tuhan mengutuk manusia. Padahal, yang saya baca sebenarnya adalah bahwa Tuhan menjelaskan konsekuensi alamiah dari dosa. Dan semua 'kutuk' tersebut sebenarnya berbicara tentang hilangnya providensia yaitu penyertaan dan perlindungan Tuhan. Adam memang secara natural memiliki mandat untuk bekerja (mengusahakan taman). Jadi bekerja bukanlah kutukan. Hanya saja, ia akan bekerja dengan bersusah payah.
- Hilangnya providensia ini bukan karena Tuhan marah, tetapi karena sifat tidak aman dalam diri manusia tersebut yang membuat rasa susah itu timbul. Jika tidak percaya, praktekkan sendiri. Cobalah terus percaya bahwa Tuhan pasti menolong, tidak peduli seberat apapun kenyataan yang terjadi. Jika kita lakukan ini, hati kita akan jadi lebih tenang, dan rasanya masalah kita lebih ringan. Jadi beratnya sebuah masalah sebenarnya tergantung dari sikap hati kita terhadap Tuhan.
- Ay 22, Tuhan mengusir manusia dengan alasan "jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." Pertanyaannya, apakah sebelum berdosa manusia tidak boleh memakan buah tersebut? Sebelum makan buah itu, manusia hidup secara kekal. Jadi ini bukan tentang Tuhan marah, tetapi bayangkan akibatnya seseorang yang egois (berarti memiliki kecenderungan untuk merusak) hidup untuk selama-lamanya? Berapa banyak kerusakan yang terjadi?
- Yohanes 3:16 telah memastikan bahwa anugerah keselamatan membuat manusia hidup kekal. Sebenarnya hidup yang kekal bukan masalah memakan buah kehidupan, tetapi hidup yang kekal didapatkan dari persekutuan dan hubungan intim dengan Tuhan.
- Dan dosa akan terus melahirkan dosa. Kain yang merupakan keturunan pertama dari Adam langsung berbuat dosa dan menjadi pembunuh pertama di muka bumi. Selanjutnya kita akan terus menyaksikan bagaimana dosa terus merusak bumi jika membaca seluruh sejarah, baik di Alkitab maupun sejarah dunia.