Tobsite Rahasia Membangun Boundaries yang Sehat Sama Mertua/Keluarga Pasangan ala DISC
Personal Growth > DISC

08 July 2026

Rahasia Membangun Boundaries yang Sehat Sama Mertua/Keluarga Pasangan ala DISC

Pernah nggak kamu lagi asyik rebahan di akhir pekan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang disusul suara mertua masuk tanpa kabar sebelumnya? Atau mungkin, saat kamu lagi menyajikan makanan, muncul komentar bernada pasif-agresif seperti, \"Kok masaknya nggak kayak resep keluarga Ibu ya?" Di platform media sosial seperti X dan TikTok, curhatan seputar dinamika menantu versus mertua kerap kali viral dan menjadi trending topic. Banyak yang langsung memberikan label kilat sebagai mertua toxic, padahal sering kali masalah utamanya berakar dari satu hal: ketiadaan boundaries keluarga yang jelas sejak awal.

Bagi generasi Millennial dan Gen-Z, menjaga ruang privasi dan kesehatan mental adalah hal yang sangat fundamental. Namun, bagi generasi orang tua, konsep privasi dalam ikatan pernikahan kerap disalahartikan sebagai penolakan atau sikap menjauhkan diri dari keluarga besar. Lalu, bagaimana caranya menerapkan batasan sehat tanpa harus memicu drama rumah tangga atau perang dingin antarkeluarga? Jawabannya ada pada pendekatan psikologi komunikasi berbasis DISC relationship.

Memahami Akar Konflik: Menilik Core Needs dan Core Fears

Sebelum kita buru-buru melabeli mertua atau keluarga pasangan dengan sebutan toxic, mari kita bedah secara psikologis mengapa gesekan ini bisa terjadi. Setiap manusia bertindak berdasarkan dua dorongan utama: apa yang paling mereka butuhkan (core needs) dan apa yang paling mereka takuti (core fears). Ketika seorang mertua terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-menantunya, itu biasanya merupakan mekanisme pertahanan bawah sadar mereka saat merasa kehilangan kendali, takut tidak lagi dianggap penting, atau cemas akan ketidakpastian.

Teori DISC yang dikembangkan oleh Dr. William Moulton Marston mengelompokkan perilaku manusia ke dalam empat tipe: Dominance (D), Influence (I), Steadiness (S), dan Conscientiousness (C). Dengan mengenali tipe kepribadian mertua atau keluarga pasangan, kamu bisa menyusun strategi komunikasi yang presisi untuk menegakkan batasan sehat tanpa melukai ego mereka.

Strategi Menghadapi 4 Tipe Mertua ala DISC

1. Mertua Tipe D (Dominance): Si Pengatur yang Dominan

Mertua dengan profil Dominance adalah tipe yang terbiasa memegang kendali, tegas, berorientasi pada hasil, dan tidak suka bertele-tele. Mereka sering kali memutuskan hal-hal krusial secara sepihak, seperti menentukan lokasi tempat tinggal anak-menantu atau cara mengelola keuangan rumah tangga baru.

  • Core Needs: Kendali, efisiensi, dan pengakuan atas otoritasnya.
  • Core Fears: Kehilangan kontrol, dimanfaatkan, atau dianggap lemah.
  • Cara Membangun Batasan Sehat: Jangan mendebat mereka secara emosional karena hal itu akan dianggap sebagai perlawanan langsung terhadap otoritas mereka. Gunakan teknik the illusion of choice (memberikan ilusi pilihan). Berikan batasan dengan bahasa yang tegas, singkat, dan berfokus pada solusi.
  • Contoh Skrip: "Terima kasih banyak masukannya, Bu. Untuk renovasi rumah ini, kami sudah memutuskan memakai opsi A agar biayanya tetap terkendali. Kalau Ibu mau bantu, kami sangat menghargai saran Ibu untuk memilih warna cat ruang tamu."

2. Mertua Tipe I (Influence): Si Ramah yang Suka Validasi

Mertua tipe Influence biasanya sangat ramah, ceria, suka berkumpul, dan ekspresif. Namun, mereka bisa menjadi sangat menuntut dalam hal waktu dan perhatian. Mereka mungkin sering mengajak kumpul keluarga tanpa rencana matang, mengunggah foto cucu atau privasi rumah tanggamu ke media sosial tanpa izin, dan merasa sakit hati jika undangannya ditolak.

  • Core Needs: Validasi sosial, pengakuan emosional, dan keterlibatan.
  • Core Fears: Ditolak, diabaikan, atau merasa dikucilkan dari lingkaran sosial keluarga.
  • Cara Membangun Batasan Sehat: Penuhi core needs mereka terlebih dahulu lewat pujian dan apresiasi yang tulus sebelum kamu menyampaikan batasan yang ingin diterapkan. Pastikan penolakanmu ditujukan pada kegiatannya, bukan pada kepribadian mereka.
  • Contoh Skrip: "Senang banget lihat Mama selalu semangat kumpul keluarga! Tapi untuk akhir pekan ini, kami butuh istirahat dulu ya, Ma. Nanti kita jadwalkan makan siang bareng minggu depan biar lebih leluasa ngobrolnya."

3. Mertua Tipe S (Steadiness): Si Penjaga Harmoni yang Sulit Berubah

Mertua tipe Steadiness sangat mencintai stabilitas, tradisi turun-temurun, dan sangat menghindari konflik terbuka. Masalah biasanya muncul dalam bentuk passive-aggressive behavior ketika kamu mencoba membawa kebiasaan baru ke dalam keluarga yang dianggap melanggar tradisi lama.

  • Core Needs: Rasa aman, stabilitas, kepastian, dan keharmonisan.
  • Core Fears: Perubahan mendadak, perselisihan terbuka, dan situasi yang tidak terduga.
  • Cara Membangun Batasan Sehat: Sampaikan perubahan atau batasan secara perlahan dan terencana. Jangan memberikan kejutan atau keputusan mendadak. Libatkan rasa empati dan tunjukkan bahwa batasan yang kamu buat tidak akan merusak hubungan kekeluargaan yang sudah harmonis.
  • Contoh Skrip: "Ibu, kami sangat menghargai tradisi kumpul setiap hari raya. Karena jadwal kerja kami tahun ini sedikit berbeda, kami ingin izin untuk membagi waktu kunjungan secara bergantian agar semuanya tetap bisa berjalan nyaman untuk keluarga."

4. Mertua Tipe C (Conscientiousness): Si Analitis yang Perfeksionis

Mertua dengan profil Conscientiousness adalah tipe yang sangat teliti, logis, dan memegang teguh standar atau prosedur baku. Mereka sering mengkritik cara kamu mendidik anak, cara menata rumah, atau cara mengasuh keluarga karena dinilai tidak sesuai dengan standar yang menurut mereka paling benar.

  • Core Needs: Keteraturan, akurasi, logika, dan prosedur yang jelas.
  • Core Fears: Kesalahan fatal, kritik balik, dan situasi yang kacau atau tanpa aturan.
  • Cara Membangun Batasan Sehat: Jangan merespons kritik mereka dengan argumen emosional. Gunakan data, fakta medis, atau referensi profesional yang valid saat menjelaskan keputusan rumah tanggamu.
  • Contoh Skrip: "Terima kasih infonya, Pak. Berdasarkan anjuran dari dokter spesialis anak yang kami ikuti, pola makan si kecil memang disarankan menggunakan metode ini untuk menghindari risiko alergi."

Langkah Praktis Menjaga Batasan Sehat Tanpa Drama

Menerapkan boundaries keluarga bukanlah tindakan memutus tali silaturahmi, melainkan langkah penting untuk menciptakan hubungan yang berkelanjutan dan saling menghargai. Berikut adalah langkah praktis yang bisa kamu terapkan bersama pasangan:

  1. Samakan Persepsi dengan Pasangan: Jadikan pasangan sebagai pintu komunikasi utama untuk keluarganya sendiri. Sebelum menetapkan batasan kepada mertua, pastikan kamu dan pasangan memiliki visi yang selaras 100%.
  2. Gunakan Formula Komunikasi Asertif: Gabungkan apresiasi tulus, sampaikan batasan secara tegas tanpa meminta maaf berlebihan, dan tawarkan alternatif yang masuk akal.
  3. Konsisten dan Tenang: Ketika batasan yang kamu buat mulai diuji, pertahankan batasan tersebut dengan tenang tanpa perlu terpancing emosi atau melakukan pembelaan diri yang berlebihan.

Memahami kepribadian orang lain berawal dari pemahaman yang utuh terhadap kepribadian diri sendiri dan pasangan. Jika kamu ingin menggali lebih dalam tentang dinamika komunikasi, resolusi konflik, dan pengembangan kapasitas personal dalam hubungan, kamu bisa mengeksplorasi wawasan bermanfaat lainnya di Tobsite Pengembangan Diri.

Share
Tobsite

Runtime Notification