Tobsite Panduan Tiap Tipe DISC Saat Harus Bekerja Sama dengan Mantan di Satu Kantor
Personal Growth > DISC

29 July 2026

Panduan Tiap Tipe DISC Saat Harus Bekerja Sama dengan Mantan di Satu Kantor

Pernahkah kamu mendengar celetukan viral di media sosial, \"Don't date your coworker"? Bagi sebagian besar kalangan Gen-Z dan Millenials, aturan tak tertulis ini kerap diabaikan atas nama cinta lokasi yang manis di awal. Namun, skenario terburuknya adalah ketika hubungan asmara berakhir, sementara kamu dan dia masih berada di bawah atap kantor yang sama, divisi yang sama, atau bahkan harus duduk bersebelahan saat sprint review mingguan.

Momen canggung saat berpapasan di pantry, perang dingin di grup Slack, hingga rasa campur aduk ketika harus meminta approval dokumen adalah mimpi buruk yang sangat menguras energi mental. Menghadapi situasi kerja bareng mantan membutuhkan kedewasaan emosional tingkat tinggi agar kamu tetap bisa tampil profesional di kantor tanpa mengorbankan performa kerja maupun kesehatan mentalmu.

Dinamika Psikologis: Mengapa Berada di Dekat Mantan Terasa Begitu Berat?

Secara psikologis, berada di dekat mantan pasangan mengaktifkan respons ancaman (threat response) di otak. Wilayah amygdala memicu kewaspadaan tinggi karena otak mengidentifikasi orang tersebut sebagai sumber rasa sakit emosional, penolakan, atau konflik yang belum selesai. Masalahnya, lingkungan kerja menuntut kita untuk tetap rasional, fokus, dan kooperatif.

Setiap orang memiliki reaksi berbeda dalam merespons situasi krisis interpersonal ini. Cara kamu bereaksi sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadianmu. Dengan memahami pendekatan DISC kerja, kita bisa membedah core needs (kebutuhan dasar) dan core fears (ketakutan terbesar) dari masing-masing tipe kepribadian saat harus berhadapan dengan masa lalu di tempat kerja.

Panduan Menghadapi Mantan Berdasarkan Profil Kepribadian DISC

1. Tipe Dominance (D): Si Tegas yang Benci Kehilangan Kontrol

Individu tipe D digerakkan oleh kebutuhan dasar akan pencapaian, efisiensi, dan kendali. Ketakutan terbesar mereka adalah terlihat lemah, dimanfaatkan, atau kehilangan kendali atas situasi kerja.

Ketika harus kerja bareng mantan, tipe D cenderung memasang dinding pertahanan yang sangat tebal. Mereka bisa berubah menjadi sangat dingin, sarkastik, atau justru terlalu menuntut dalam pekerjaan demi menunjukkan bahwa mereka "sudah menang" pasca putus cinta.

  • Tantangan Utama: Terlalu kompetitif atau bersikap agresif pasif saat meeting bersama mantan.
  • Strategi Solutif: Salurkan energi fokusmu pada Key Performance Indicators (KPI) nyata, bukan memenangkan adu ego personal. Buat komunikasi berbasis data tertulis agar tidak ada ruang untuk perdebatan emosional. Tunjukkan kekuatanmu lewat integritas hasil kerja, bukan lewat dominasi yang intimidatif.

2. Tipe Influence (I): Si Populer yang Takut Suasana Canggung

Tipe I memiliki core needs berupa pengakuan sosial, hubungan harmonis, dan ekspresi diri. Sebaliknya, core fears mereka adalah penolakan sosial, kehilangan popularitas, atau diabaikan oleh lingkungan pergaulan kantor.

Bagi tipe I, suasana canggung dengan mantan di kantor adalah siksaan berat. Mereka mungkin tergoda untuk oversharing atau curhat ke rekan kerja satu divisi, yang tanpa disadari justru memicu drama kantor dan gosip tak berujung.

  • Tantangan Utama: Sulit menjaga batasan profesional dan rentan memicu kubu-kubuan di antara teman kantor.
  • Strategi Solutif: Tahan dorongan untuk mencari validasi dari rekan kerja. Jaga batasan pribadi secara ketat. Jika harus berinteraksi dalam tim proyek, gunakan nada bicara yang ramah namun formal (courteous professional) tanpa perlu memaksakan diri menjadi teman akrab seketika.

3. Tipe Steadiness (S): Si Penjaga Damai yang Takut Konflik Terbuka

Individu tipe S mendambakan rasa aman, stabilitas, dan keharmonisan jangka panjang. Ketakutan terbesar mereka adalah perubahan mendadak, konfrontasi langsung, serta rusaknya rasa aman di lingkungan kerja.

Tipe S sering kali memilih untuk memendam perasaan dan menghindari mantan sebisa mungkin, bahkan rela mengorbankan hak profesionalnya (seperti enggan memberikan masukan kritis atau menghindari proyek strategis) hanya demi mencegah perselisihan.

  • Tantangan Utama: Menumpuk stres emosional secara internal (internalizing stress) yang berujung pada burnout atau performa yang menurun.
  • Strategi Solutif: Sadarilah bahwa batas profesionalitas bukan berarti kamu harus setuju pada semua hal. Berlatihlah untuk bersikap asertif secara perlahan. Fokuslah pada peran dan tanggung jawab objektifmu di tim tanpa merasa bertanggung jawab atas suasana hati mantan pasangan.

4. Tipe Compliance (C): Si Analitis yang Menghindari Kekacauan Emosional

Tipe C didorong oleh kebutuhan akan ketepatan, logika, aturan yang jelas, dan kualitas kerja tinggi. Ketakutan terbesar mereka adalah kritik terhadap kompetensi diri serta situasi yang tidak rasional atau penuh kekacauan emosional.

Saat berada dalam situasi satu kantor dengan mantan, tipe C biasanya menjadi sangat kaku, hiperkritis terhadap pekerjaan mantan, atau bahkan terlalu formal hingga terlihat seperti robot. Mereka mengisolasi diri untuk menghindari drama emosional.

  • Tantangan Utama: Sikap yang terlalu kaku dan kecenderungan mencari-cari kesalahan teknis mantan demi melindungi ego rasionalnya.
  • Strategi Solutif: Tetap gunakan logika analitismu untuk hal-hal yang konstruktif. Buat workflow dan Standard Operating Procedure (SOP) yang transparan saat berkolaborasi, sehingga evaluasi pekerjaan murni berbasis standar objektif perusahaan, bukan pelampiasan rasa kecewa.

Actionable Tips: Rambu-Rambu Menjaga Sikap Profesional di Kantor

Terlepas dari tipe kepribadianmu, ada beberapa prinsip mendasar yang wajib kamu terapkan agar kariermu tetap bersinar meskipun harus satu ruangan dengan mantan:

  1. Gunakan Jalur Komunikasi Resmi: Hindari berkirim pesan lewat aplikasi chat pribadi untuk urusan kantor. Manfaatkan email korporat, Slack, atau platform manajemen proyek agar percakapan tetap berada dalam konteks pekerjaan.
  2. Terapkan "No Gossip Policy": Jangan menjadikan ruang istirahat atau jam makan siang sebagai ajang menjelek-jelekkan mantan di depan rekan satu divisi. Sikap elegan ini akan meningkatkan respek rekan kerja dan atasan terhadap integritasmu.
  3. Tentukan Batasan Fisik dan Ruang Kerja: Jika memungkinkan, diskusikan secara profesional dengan tim lead untuk pembagian peran atau posisi duduk yang memberi ruang bernapas secara psikologis, tanpa mengganggu operasional tim.
  4. Fokus pada Career ROI: Ingat kembali alasan utama kamu berada di perusahaan tersebut, yaitu untuk bertumbuh, meraih target karier, dan membangun reputasi profesional yang solid.

Tingkatkan Kesadaran Diri dan Kelola Dinamika Kariermu Bersama Tobsite

Mengenali respon bawah sadar, core needs, serta gaya komunikasi diri sendiri adalah kunci utama untuk menghadapi berbagai tantangan interpersonal di dunia kerja. Ketika kamu memahami profil kepribadianmu lewat asesmen psikologis yang tepat, kamu dapat mengelola stres, memimpin diri sendiri, dan tetap produktif di tengah dinamika kantor yang kompleks.

Ingin mengetahui lebih dalam profil kepribadianmu dan bagaimana memaksimalkan potensimu di tempat kerja? Ayo, segera bergabung dengan Tobsite sekarang juga untuk mengikuti berbagai tes kepribadian serta mendapatkan bimbingan pengembangan diri yang relevan untuk kariermu!

Share
Tobsite

Runtime Notification