From The Author > Life Paradigm
Membuat Keputusan Bagi Perubahan Hidup
Dalam setiap aspek kehidupan kita, kita selalu membuat keputusan. Kuliah di mana, bekerja di mana, menikah dengan siapa, bahkan sekedar makan apa atau mengenakan baju apa hari ini. Dan perkara membuat keputusan mungkin bukanlah hal sulit buat kita, meskipun ada juga yang merasa hal ini sulit.
Namun, dalam buku Difference Maker (Pembuat Perbedaan) oleh John C. Maxwell, ada satu hal yang diungkapkan berulang-ulang, yaitu tentang mengatur keputusan kita. Apa bedanya? Mengatur keputusan dilakukan setelah keputusan dibuat. Misalnya, jika kita memutuskan untuk berkuliah di Universitas A di kota B, maka mengatur keputusan berarti bagaimana kita melakukannya. Mulai dari kapan mendaftar, persiapan apa yang dilakukan, menetap di mana, dan sebagainya.
Hal ini menjadi sangat penting karena kebanyakan kita sering berhenti pada tahap membuat keputusan tanpa pernah memikirkan masak-masak bagaimana melaksanakannya. Padahal melaksanakan keputusan memiliki porsi yang jauh lebih besar dari membuat keputusan (tanpa mengecilkan arti dari membuat keputusan). Jika kita menyadari hal ini tentunya kita tidak akan menganggap sepele lagi mengenai pengaturan keputusan, termasuk dalam hidup kita.
Sadar atau tidak sadar, apa yang terjadi dalam diri kita adalah akibat dari keputusan yang kita buat. Tetapi lebih dari pada itu juga adalah akibat dari bagaimana kita mengatur keputusan tersebut. Salah satu hal yang paling mendasar bahkan adalah mengenai makanan. Namun, aku tidak menyoroti masalah makanan jasmani, tetapi lebih mengenai makanan rohani. Bukankah kita sering melupakannya?
Jika tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, ataupun tidak secara teratur, kita akan sakit bukan? Demikian juga rohani kita, terutama yang berkaitan dengan aspek jiwa dan roh kita. Mereka juga butuh makan.
Teringat akan film Secretariat yang mengisahkan tentang seekor kuda keturunan dua kuda juara yang berlainan karakteristik (sang pejantan adalah kuda berkarakteristik kecepatan dan betinanya kuda berkarakteristik stamina). Ia telah memenangi kejuaraan bagi kuda umur dua tahun dengan gemilang. Tapi masalah terjadi saat ia harus memasuki pacuan untuk kuda umur tiga tahun yang memiliki lintasan jauh lebih panjang. Selama ini, tidak ada keturuna sang pejantan yang berhasil menjuarainya.
Bahkan saat uji coba, ia kalah jauh dari pesaingnya. Hal ini terjadi karena ia salah makan dan akhirnya terjadi semacam sariawan bagi kuda, sehingga ia tidak mau makan (padahal biasanya porsi makannya lebih banyak dari kuda yang sedang hamil!). Untungnya segalanya dapat dibereskan dan hebatnya, ia berhasil memenangi perlombaan ketiga dengan jarak 31 badan kuda! Hal ini tercatat sebagai sedikit dari kemenangan terhebat yang pernah ada!
Dari cerita ini kita pasti langsung mengetahui tentang pentingnya mengatur keputusan kita, termasuk bagaimana kita mengatur kehidupan kita agar pertumbuhannya dapat berjalan dengan maksimal. Bacalah buku yang sesuai untuk anda, mintalah referensi mengenai buku yang bagus, banyaklah berdoa dan merenungkan Firman Tuhan, maka anda akan memiliki hidup yang jauh lebih berkualitas!
Bahkan jika kita merenungkan lebih jauh, kita akan mendapati bahwa kita adalah yang paling tahu mengenai kondisi kerohanian kita, apa yang kita butuhkan, kitalah yang paling tahu. Oleh karena itu, contohnya dalam pembacaan Alkitab, mungkin saja pembacaan kitab yang mengikuti petunjuk tahunan bukan hal yang paling tepat. Bisa saja kita sedang tertekan dan mengalami depresi, tetapi kita justru sedang membaca kitab silsilah yang mungkin cukup membosankan. Akhirnya roh kita tidak mendapat asupan gizi yang tepat. Bukan berarti aku mengesampingkan kuasa Firman Tuhan, tetapi di sini aku mengajak kita untuk lebih bebas dalam menentukan apa yang paling tepat untuk diri kita.
